Membuat Pilihan, Menjemput Takdir : Fragmen 2

SMA-ku tercinta, Desember 2007

Hari ini aku pulang ke SMA-ku tercinta. Aku diminta menjadi pembicara dalam salah satu sesi Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS. Sembari berdiri di pintu gerbang SMA-ku, aku kembali  mengenang masa – masa itu. Masa-masa SMA-ku. Ketika itu aku masih dihinggapi kebimbangan yang begitu pekat; ketika itu aku masih belum berani mengambil keputusan perihal urusan (yang kuanggap besar) dalam hidupku.

SMA-ku Tercinta, September 2005

Aku menghadapi empat buah dilema yang satu sama lain saling beradu: aku mencintai sahabatku: Dyah Kinanti, aku (mulai) mengetahui bahwa Islam tidak mengenal pacaran, aku ingin belajar jadi muslim yang baik, dan (ternyata) aku memang belum siap menikah…

Beberapa hari lamanya aku dihinggapi kebingungan ini. 5 hari. 7 hari. Aku tidak ingat persis.

Ingin rasanya meminta saran ke sahabat baruku, Muhammad Iqbal, ketua ROHIS SMA-ku tercinta ketika itu. Aku dan Iqbal mulai dekat semenjak kami terlibat aktivitas bersama dalam pembuatan program kerja OSIS. Dari dialah aku mengenal Islam kembali. Dari dialah aku mulai mengikuti kajian-kajian Islam di Masjid. Dan dari dialah aku mau mengikuti acara Muhasabah Nasional di Masjid At-Tin beberapa waktu yang lalu. Dan dari acara itulah awal upaya pertaubatanku dimulai.

“Tidak, ini bukan urusan Iqbal. Dia sudah terlalu kurepotkan dengan berbagai macam urusanku”, bisikku dalam hati. Pikiran itu mengental setelah aku melaksanakan sholat istikhoroh yang ketiga. Aku membuat keputusan (sementara): aku tidak akan memusingkan dilemaku. Apalagi sampai harus menyemainya dengan sering-sering mendengar lagu Agnes Monica “Cinta Mati”. Aku akan melanjutkan seluruh aktivitasku. Yang pasti, aku tidak akan “menembak” Kinan. Tidak sekarang. Tidak dalam waktu dekat.

Aktivitas belajar di kelas dan OSIS ternyata menyita begitu banyak perhatian dan energiku. Menginisiasi begitu banyak acara : Lomba 17 Agustus, Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS, Bakti Sosial, sampai pentas seni. Di satu sisi aku juga harus terus menjaga nilaiku agar tetap berada di jalur aman. Yah… paling tidak, kalaupun harus remedial, cukup sekali saja. Tidak boleh ada dua kali remedial untuk sebuah ujian. Kesibukanku ternyata cukup efektif untuk membuatku lupa akan dilemaku tadi.

Oh iya, ada yang lupa kuceritakan. Kinan adalah Bendahara di OSIS. Tidak. Tidak ada nepotisme. Aku tidak memilihnya sebagai Bendahara karena aku menyukai dia. Malah cinta itu hadir beberapa saat setelah aku menunjuknya. Aku memilih Kinan karena diantara semua anak OSIS, Kinan adalah anak yang paling rapih dalam pencatatan keuangan. Kinan terkenal seantero sekolah sebagai (bisa dibilang) satu-satunya orang yang membuat catatan rutin dari pemasukan dan pengeluaran hariannya. Bahkan untuk satu buah permen sekalipun, tidak akan luput dari catatannya.

Dilemaku memang (terasa) hilang. Tapi tanpa kusadari, waktu demi waktu, aku semakin dekat dengan Kinan. “Tidak, aku tidak pacaran”, kalimat itu selalu menjadi pembenaranku dalam hati. “Aku kan tidak pernah menembak Kinan”.

Tetapi tidak bisa ditampik, kesibukanku di OSIS membuatku “harus” selalu berinteraksi dengan Kinan perihal masalah keuangan dan aktivitas OSIS lainnya. Aku semakin sering berdiskusi dengan Kinan, sering menelponnya; semuanya atas nama aktivitas organisasi. (Lagi-lagi) pembenaranku adalah, “Yang penting tidak pacaran, tidak menyatakan cinta, tidak berdua-duan di tempat tertutup, dan tidak bersentuhan”. Semua ajaran Iqbal kucoba terapkan dengan baik; sedikit demi sedikit.

Tetapi satu hal, aku berbohong kalau aku bilang aku merasa biasa saja dalam setiap interaksiku dengan Kinan. Butuh upaya khusus untuk membuatku terlihat santai dan tidak salah tingkah. Dan ya, tentu saja aku merasa bahagia ketika berinteraksi dengan Kinan. Itu tidak bisa kutampik.

Kondisi seperti ini terus berlangsung selama 1 tahun sampai menjelang aku selesai menjabat ketua OSIS. Di tengah (mulai) selesainya kesibukan organisasiku, aku mulai berhadapan dengan dilemaku lagi. Suatu hari Iqbal datang padaku ketika aku baru saja selesai Dhuha di masjid.

“Maaf nih Waz, ada yang mau ane Tanya. Tapi jangan marah ya. He..he..”, sapa Iqbal.

Tafadhol Masykuron akh”, balasku dengan gaya seakan-akan fasih berbahasa arab.

Iqbal memulai pertanyaannya, “Hmm, ente pacaran ya sama Kinan?”

Deeg, tiba aku merasakan kekagetan yang sangat, “Sori bal, bisa diulang pertanyaanya?”

Iqbal terlihat tidak enak, tetapi tetap mengulang pertanyaanya, “Bener gak ente pacaran sama Kinan? Tadi dengar kabar ini dari Ari. Ari cerita kalau di sekolah mulai berkembang kasak kusuk kalau ente pacaran dengan Kinan.”

Dengan (pura-pura) tenangnya aku menjawab, “Egh.. ah tidak kok Bal. Itu keliatannya aja karena kita bedua satu organisasi dan punya banyak kerja bareng. Enggak kok”.

“Syukurlah”, tukas Iqbal terlihat lega. Tetapi aku tidak merasa lega. Aku buru-buru pamit dari masjid dan berjalan dengan sangat cepat ke kelas. Aku harus menemui Ari. Ada apa ini? Kok aku tidak tahu ada info seperti ini.

Ari Anggara, teman sebangku-ku, dan salah satu sahabat terbaik. Dia terlihat tampan (setidaknya aku dan teman sering meledeknya seperti itu); tipe teman sebangku yang asyik, rame, dan supel.

Kutemukan Ari sedang bermain HP di kelas. Aku menenangkan diriku terlebih dahulu, lalu aku temui dia.

Tetapi malah sebelum aku mulai berbicara, Ari sudah langsung mulai berkata, “Nah, ini anaknya yang gw cari.” Aku berlagak pura-pura bingung.

Lo tau gak Waz, sekarang diantara anak-anak cowo terdengar kasak kusuk kalo lo pacaran sama Kinan.”

“Ah masak sih?”, pura-puraku.

“Iya, anak – anak mulai sering ngomongin tentang ini. Terutama sih karena lo terlihat semakin dekat dengan Kinan”, lanjut Ari.

“Ah, enggak kok. Itukan karena emang gw banyak aktivitas sama dia. Enggak-enggak kok”, lagi-lagi aku menyanggah.

“Yah, gw belum denger lo nembak Kinan sih. Hmm.. tapi lo sadar gak, lo berdua, honestly, emang keliatan kayak orang pacaran. Sering jalan berdua, sering diskusi di ruang OSIS, sering ketawa bareng. Dan… ini nih yang gw lupa bilang, di acara OSIS terakhir kemarin, gw secara sadar melihat kalau lo begitu peduli sama Kinan”.

“Yang mana?”, pungkasku.

Lanjut Ari, “Itu tuh lho, pas Kinan lagi mimpin rapat evaluasi keuangan tahunan OSIS, Kinan kan batuk – batuk dan suaranya kelihatan sedikit serak karena terlalu banyak ngomong. Lo inget kan lo jauh – jalan ke kantin untuk beliin dia Aqua”.

“Lah, bukannya itu wajar ya, gw nolongin temen”, tangkisku dengan cepat.

“Iya sih wajar, cuman, ada pembandingnya yang membuat gw jadi kepikiran. Lo sadar gak, lo gak bergerak seperti itu ketika Inggrit memimpin rapat evaluasi kesekretariatan setengah jam sebelumnya. Inggrit kan kondisinya lebih parah, suara dia jauh lebih serak dari Kinan karena baru mau mulai sakit. Tapi lo diam saja, hanya mendengarkan dan bertanya tentang presentasi Inggrit. Tetapi tidak sampai ke kantin tuk beliin dia Aqua. Tidak seperti Kinan. Lo langsung bergerak begitu cepat, bahkan seketika setelah batuk yang pertama”.

Aku terdiam…. Kegalauan yang dahulu sudah kulupakan, perlahan muncul.

“Sori, kalau gw bikin lo gak nyaman. Honestly, sebenarnya lo suka sama Kinan gk sih?”, tanya Ari.

Gw tahu lo pernah cerita kalo lo mau berhenti pacaran. Dan gw tahu lo sekarang dekat dengan Iqbal, guru ngajinya sekolah kita. Tapi, honestly lagi, secara de jure lo emang gak pacaran, gw tahu itu. Tapi tau gak, menurut gw, secara de facto lo terlihat seperti pacaran. Secara “bungkus” lo gak pacaran, secara substansi, menurut gw lo pacaran”.

 Kalimat Ari membuatku makin terdiam.

Gw boleh kasih saran?”, tanya Ari. “Boleh”, ucapku pelan. “Saran gw, lo lebih baik bersikap tegas, sekalian tembak Kinan, dan, sori, berhenti bilang ke anak – anak kalo lo gak mau pacaran lagi, atau… hmm… baiknya lo mulai jaga jarak dari Kinan. Bersikap biasa aja dengan Kinan sebagaimana sikap lo dengan cewe lain. Kenapa gw bilang gini, karena.. lo bilang gak mau pacaran, tapi secara praktik, lo terlihat pacaran. Bahkan, honestly , sudah ada beberapa anak yang bilang lo -sori- muna, hipokrit. Sori bro. Gw ngasih tahu ini demi kebaikan lo juga.”

Kalimat Ari yang terakhir terasa begitu menohok. Aku tidak bisa berkata apa – apa selain mengucap terima kasih.

Setelah itu, aku menjadi tidak konsen. Pelajaran terakhir tidak kuperhatikan sama sekali. Aku izin tidak ikut rapat OSIS persiapan pemilihan ketua baru. “Aku tidak enak badan”, izinku. Dan anak-anak OSIS memakluminya karena aku memang nyaris tidak beristirahat selama satu minggu ini.

Aku merasakan kegalauan yang begitu kuat. Di metro mini. Di rumah. Bahkan ketika sholat Magrib di musholla depan rumah. Tanpa sadar aku meneteskan air mata ketika berdoa. Aku jadi teringat kata – kata seorang ustadz di salah satu kajian Masjid sekolah:

“Islam itu agama yang sempurna dan menyeluruh. Kita harus menerima semuanya. Kita tidak bisa menerima sebagian ayat dan menolak sebagian lainnya. Kita harus Islam secara label, status. Dan kita juga harus Islam secara substansi. Tahukah teman, mengapa orang kafir dan munafik, dalam keyakinan kita tempatnya di neraka? Orang kafir, boleh jadi Islam secara substansi. Akhlaknya baik, suka menolong orang, bahkan menolong perjuangan umat Islam. Tapi dia tidak Islam secara label luar, dia tidak mau bersyahadat. Dia tidak mau mempersaksikan. Maka hal ini akan membuat dia, jika tidak bertaubat, ditempatkan oleh Allah di neraka. Sama halnya dengan orang munafik; dia Islam secara label, bersyahadat. Tapi tidak Islam secara substansi. Benci dengan Islam, mencoba merusak dari dalam dan seterusnya. Tempat orang ini juga neraka, bahkan keraknya. Jadi, ingatlah teman-teman, kita harus ber-Islam, baik secara substansi maupun label. Keduanya harus dijalani secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa; dalam pribadi muslim, mau tidak mau, harus berpadu dua hal penting: kejujuran dan integritas. Jujur artinya mengatakan apa yang kita lakukan. Dan integritas adalah melakukan apa yang kita katakan. Kalau tidak demikian, ingat, ancamannya adalah neraka.”

Mengingat itu, aku semakin sedih. Aku seakan – akan tersadar dari mimpi “indah” yang begitu panjang. Aku sadar aku salah. Tapi…. Aku tidak bisa menampik, aku begitu mencintai Kinan. Mengingat itu, air mataku semakin banyak turun. Dan pertanyaan yang sama, setahun yang lalu, kembali muncul.

Apa yang harus kulakukan?

Melawan Ketakutan: Jalani Saja!

erasing-fear

Sebagaimana halnya yang pernah dialami oleh banyak orang, keberangkatan ke Jerman akhir Januari kemarin menimbulkan perasaan cemas dan takut pada diri saya. Apalagi sebelumnya saya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di negeri orang; satukalipun. Bahkan Malaysia-Singapura yang dekat pun belum! Dan ketika kesempatan itu hadir, maka cemas dan takut itu pun muncul begitu nyata. Eropa dan musim dingin! Kata pak Akhmad Hidayatno di jaman saya masih belajar sama beliau (sekarang pun masih): ketika seseorang masuk ke tempat yang baru, maka tubuhnya akan merasa bingung dan tidak terbiasa dengan kondisi yang tidak dia kenal, adrenalinnya meningkat, sehingga perasaan cemas pun muncul. Lalu apa karena itu saya tidak jadi berangkat ke Jerman?

“Fear just can’t be trusted. Ketakutan bisa sangat meyakinkan sehingga segala hal yang seharusnya mudah bisa jadi sangat sulit atau bahkan tidak mungkin. Apakah khawatir bangkrut = jangan pernah jadi entrepreneur? Apakah risiko pesawat jatuh = jangan pernah naik pesawat? Apakah ketakutan dimarahi Bos = katakan dan lakukan segala hal yang membuatnya senang?” (Rene Suhardono)

Seperti kata pak Rene, ketakutan tidak bisa kita percayai. So, how to overcome it? Kunci jawaban dari itu semua, menurut saya, “Jalani saja”. Kata-kata itu saya dapat dari ceramahnya Aa Gym, setahun yang lalu di Gottingen; yang saya temukan di YouTube, sehari setelah saya tiba.

Tidak ingatkah kita akan kalam Allah subhaanahuu wata a’la:

QS Al-Insyirah: 5

“Karena sesudah kesulitan ada kemudahan”

Bahkan sampai diulang 2 kali: “Sesudah kesulitan ada kemudahan” (ayat 6).

Kunci untuk menghadirkan 2 kali kemudahan yang Allah janjikan itu adalah, “Jalani saja”. Selama kita yakin apa yang kita jalani itu benar dan baik buat kita, mengapa harus berhenti?

Saya takut dengan suhu yang dingin. Di ruangan kerja di kampus, dengan suhu AC yang 18 derajat saja, bisa membuat saya merasa tidak nyaman, bahkan pilek. Hampir setiap hari AC ruangan kerja saya selalu saya matikan. Bagaimana saya bisa menghadapi suhu 0 derajat? Dan ketakutan itupun menjadi “kenyataan”. Sekeluarnya dari Bandara Frankfurt am Main, langsung saya merasakan suhu dingin itu, di bawah 10 derajat! Sesampainya di Gottingen, “Aduh, lebih dingin lagi!” (makasih buat tandem Mas Edi-Mas Agung yang telah dengan sigap menyelamatkan saya). Dan tahukah teman-teman; Jerman tahun ini mengalami, “Mist Wetter”. Di saat seharusnya sudah masuk musim semi di awal Maret; bahkan sudah sempat panas 2-3 hari, tiba-tiba suhu drop sampai -11 derajat.

Mist Wetter

Mist Wetter

Dingin? Banget. Males keluar? So pasti. Kulit kering, pecah-pecah, lecet, dan masih banyak lagi.

But somehow, Allah save me. Alhamdulillah saya lancar dalam beraktivitas. Belum pernah sakit yang harus sampai bedress. Hidungnya tidak mampet (meler iya), dan seterusnya. Allah memudahkan tubuh saya untuk berkenalan dengan si “tuan rumah”. Bahkan ketika tulisan ini dibuat, saya sudah sempat keluar kota 3 kali.

In Hannover

In Hannover

Ketakutan yang lain: makanan halal, jauh dari komunitas Islam, susah untuk sholat Jumat. Dan lagi-lagi Allah memberikan jalan keluar untuk ini: Allah pilihkan untuk saya (melalui Goethe) sebuah tempat tinggal yang sangat strategis; di Philip Reis Strasse:

– Satu gedung dengan mas Afik, teman satu perjalanan dari Indonesia

– Dekat dengan Masjid Al-Iman (5-7 menit jalan kaki)

– Dekat dengan Toko Halal Al-Iman; sangat memudahkan untuk mencari daging halal. (posisi: sebelah masjid Al-Iman)

Masjid Al-Iman

Masjid Al-Iman

– Di belakang Penny Supermarkt (bisa beli sayur segar dan… Donnertasche. He…he…)

– Dekat dengan Haltesstelle. Jadi ke Goethe buat kursus jadi mudah.

– Dan yang ini gak kalah penting: dekat dengan rumah ketua PPI (baik mas Edy dan mas Adnan) dan ketua pengajian Gottingen-KALAM (mas Agung).

Dengan itu semua, Allah bantu saya untuk menjaga agama saya. Sy tidak mengalami kesulitan untuk sholat di masjid, mudah hadir di pengajian bulanan KALAM Goettingen, dan masih banyak lagi bantuan dari Allah perihal ini (sayanya saja yang kurang bersyukur, sehingga bantuan dari Allah sering saya sia-siakan. Hiks).

Last but not least, ketakutan terhadap culture shock. Saya yang biasanya sulit cair, deg-degan kalau berkenalan dengan orang yang super baru, dimudahkan oleh Allah untuk punya cukup banyak teman di sini. Dan jadi akrab dengan mereka: orang Tanzania yang selalu mengingatkan sholat di masjid, teman jalan pulang dari Brasil, kenalan professional dari Italia, teman-teman Libya (setengah kelas di Goethe isinya orang Libya) yang selalu membuat kelas seru dan ramai, dan 2 orang lehrerin yang begitu baik dalam mengajar dan toleran untuk mengizinkan saya untuk pulang cepat tuk sholat Jum’at.

Masih banyak tantangan lain yang bakal saya hadapi di Jerman. Dari itu semua, saya ingin mengatakan, ketakutan itu alami, tetapi selama kita yakin kita mengambil keputusan yang benar, jalani saja. Tentu tidak dengan melupakan hal penting lainnya: jalanilah dengan perencanaan yang terbaik.

Sekian,

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Dhani, 17 Maret 2013, Gottingen

nb: link ceramah Aa Gym di Gottingen

Efektif Membaca Artikel Ilmiah

Bukan pekerjaan mudah bagi para akademisi, baik mahasiswa maupun dosen untuk memahami artikel ilmiah yang sedang dibacanya. Saya merasakannya itu ketika membaca beberapa artikel yang saya akan pakai untuk penelitian saya. Kehilangan fokus, kepala yang terasa pusing, bingung, merasa bodoh dan lain sebagainya biasa saya rasakan ketika membaca artikel ilmiah. Dari situ saya berpikir; apakah memang saya yang terlalu bodoh atau memang saya belum paham bagaimana cara yang efektif untuk membaca artikel ilmiah. Saya memilih kemungkinan yang kedua.

Berangkat dari hal tersebut, saya googling untuk mencara bagaimana cara efektif membaca artikel ilmiah. Saya temukan beberapa referensi yang saya rasa tepat (silahkan lihat referensi di bawah). Saya akan coba sarikan untuk pembaca sekalian.

a. Memilih artikel yang tepat untuk keperluan kita
Ketepatan pemilihan bersifat relatif tergantung untuk keperluan apa kita membaca; apakah semata-mata untuk menambah ilmu ataukah untuk keperluan penelitian kita. Satu hal yang pasti kita harus sudah memiliki ‘kata-kata kunci’ yang kita mau. Kata kata kunci itulah yang nantinya akan kita gunakan untuk mencari artikel via database. Kalau kita tertarik dengan tema “reverse logistics”, maka kita bisa gunakan beberapa kata-kata kunci: “reverse logistics”, “reverse supply chain”, “close loop supply chain”, atau “product life cycle” karena tema ini berkaitan erat dengan reverse logistics.

Kita akan menemukan banyak artikel. Nah, tugas kita berikutnya adalah menyaringnya. Maka hal yang paling mudah adalah dengan membaca judul dan abstraknya. Jika dirasakan itu cocok dengan keinginan kita, maka kita bisa putuskan untuk mengunduhnya.

b. Membaca efektif artikel ilmiah
Berikut ini saya buat langkah-langkah membaca artikel ilmiah yang efektif (versi saya) sebagai berikut:
1.    Baca bismillaahirrahmaanirrahiim ^^
2.    Siapkan catatan.
Hal ini sangat penting mengingat kita adalah manusia yang mudah lupa.
3.    Baca judul dan abstrak dari artikel.
Pahami alur berpikir sang penulis. Abstrak berisikan gambaran besar dari artikel yang akan dibaca. Memahami abstrak akan membantu kita memahami keseluruhan artikel. Biasanya (walau tidak selalu), abstrak terdiri dari: (a) urgensi penelitian, (b) masalah yang dikaji, (c) metode penelitian, (d) hasil dan intrepretasinya, (e) kesimpulan, dan (f) kebaharuan.
4.    Buatlah daftar pertanyaan sebelum membaca.
Hal ini akan memudahkan kita untuk fokus pada bagian-bagian penting dari artikel, sehingga proses penyerapan ilmu berjalan dengan efektif. Beberapa pertanyaan yang sebaiknya ada adalah:
(a)    Apa isu atau masalah yang sedang dibahas
(b)    Apa gap of research atau peluang pengembangan riset yang dinyatakan oleh penulis
(c)    Apa tujuan penelitian tersebut
(d)    Metode apa yang digunakan untuk menjembatani antara gap of research dengan tujuan akhir penelitian yang ingin dicapai
(e)    Kontribusi dari artikel terhadap praktik di lapangan atau pengembangan ilmu pengetahuan
(f)    Batasan dari penelitian
(g)    Peluang penelitian di masa yang akan datang
5.    Memulai membaca
Bacalah dengan pelan tapi teratur. Jika ada bagian yang menarik, silahkan diberi tanda terlebih dahulu, tapi jangan berhenti hingga membaca selesai. Jangan teralihkan dengan bagian-bagian yang membuat kita pusing.
6.    Membaca untuk yang kedua kalinya.
Bacalah dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Buat penekanan perhatian pada bagian-bagian yang telah diberi tanda di bagian sebelumnya.
7.    Buat catatan terhadap bagian-bagian yang dianggap menarik, diantaranya: (a) mengecek di daftar referensi, sumber dari bagian yang menarik itu; kemudian menuliskan judulnya untuk further reading, (b) menulis ulang pernyataan yang dianggap menarik, (c) membuat pertanyaan jika dirasa belum paham.
8.    Menulis jawaban-jawaban dari pertanyaan di poin 5 dalam sebuah matriks yang sudah kita siapkan.
Matriks ini nantinya akan membantu kita ketika kita melalukan review terhadap seluruh artikel yang kita baca.
9.    Baca artikel lain dengan topik yang sama. Dengan urut-urutan seperti apa yang telah saya tulis di atas.
10.    Nah, ini yang paling penting. Buat tulisan baru dari apa-apa yang kita baca. Idealnya, seluruh artikel yang kita baca nantinya dapat menjadi bahan literature review bagi artikel baru yang akan kita tulis. Menulis ulang juga akan membantu membentuk struktur dalam pikiran kita sehingga nantinya akan mempermudah kita untuk memahami sebuah tema yang dikaji.

Nampaknya itu dulu, masukan dan saran dari pembaca akan sangat berharga bagi saya.
Terima Kasih

referensi:

http://www.biochem.arizona.edu/classes/bioc568/papers.htm
http://www.stanford.edu/~siegelr/readingsci.htm

Membuat Pilihan, Menjemput Takdir: Fragmen 1

Hari ini aku begitu bahagia… Setelah padatnya jadwal ospek selama 6 bulan ini. Aku punya kesempatan untuk pulang ke Jakarta, untuk memenuhi undangan pernikahan kakak sepupuku, untuk memenuhi undangan pengurus OSIS SMAku tercinta, untuk menghadari mini reuni dari sahabat-sahabat dekatku, dan karena….. ada dia di antara sahabat-sahabatku itu…

Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Muhammad Fawwaz, Fisika Teknik UGM angkatan 2007. Dulu aku adalah ketua OSIS SMA ku tercinta… Masa-masa SMAku adalah masa-masa terindah selama hidupku, mengenal banyak teman, aku menjadi ketua OSIS,…. dan yang paling utama…

Pertaubatanku…. Allah memberikan kasih sayangnya padaku dengan mengenalkan aku dengan Islam secara lebih dalam … agama yang sudah disematkan pada diriku sejak aku lahir…

Dari situ aku mengenal Islam sebagai agama yang Menyeluruh, Sempurna, dan Menyempurnakan… Dari situ pula aku belajar untuk memperbaiki diriku: akidahku, ibadahku, akhlakku, semuanya…. Aku mencintai agamaku, insya Allah…

Dan ada tambahannya…. Atas izin Allah, di tengah upayaku memperbaiki, Allah izinkan aku untuk jatuh cinta pada seorang sahabatku… Dyah Kinanti… Kinan

Aku tidak ingat persis kapan aku mulai merasakan cinta itu… tapi yang pasti tidak jauh setelah aku menyatakan pertaubatanku pada Allah…

Kinan itu orangnya yaaah….. sahabatku sejak kelas 1 SMA. Kami satu organisasi. Kinan itu wanita yang baik, pandai menempatkan diri, tidak banyak bicara tetapi bukan pendiam, ringan tangan untuk menolong orang, dan dia rajin ke masjid sma-ku tercinta untuk sholat dhuha…

bagiku….. dia adalah wanita yang lengkap, kecuali…. Jilbabnya……

Yah, dia belum berjilbab. Untuk diriku yang waktu itu baru mempelajari Islam lebih dalam, jilbab adalah pertanda keimanan seorang muslimah… sebagaimana berakhlak mulia adalah perintah Allah, maka jilbab juga perintah Allah… maka meninggalkan salah satunya merupakan pertanda belum sempurnanya iman seseorang…

Hal ini jelas mengusikku…

dan ada satu lagi….. aku sadar, tidak ada tempat bagiku untuk menyatakan cinta pada-nya.. selama aku belajar Islam, terutama setelah membaca buku ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’ karangan ustadz Salim A. Fillah, aku menyadari satu hal penting: tidak ada kosakata, “Pacaran” di dalam kamus Islam.. satu-satunya tempat cinta sejati hanyalah pernikahan….

Menikah? Umurku berapa? Waktu itu aku masih SMA… Duit dari mana? Siapa juga yang mau menerima? Apa kata orang tuaku? Belum tentu juga Kinan mau padaku. Semua pikiran itu membuatku pusing…

Apa yang harus kulakukan?

(bersambung)